Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh. Sebagai lapisan yang melindungi bagian yang lebih dalam dari tubuh, kulit rentan mengalami berbagai masalah. Salah satunya adalah hiperpigmentasi. Masalah tersebut ditandai dengan bintik pada kulit dengan warna yang berbeda dari warna asli kulit, seperti bintik hitam, coklat, atau abu-abu.
Masalah hiperpigmentasi pada kulit bisa menjadi mengganggu penampilan hingga menurunkan rasa percaya diri. Hal tersebut biasanya dirasakan oleh wanita, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk mencegah timbulnya masalah tersebut. Apabila sudah mengalaminya, para wanita akan melakukan beragam treatment untuk mengatasinya.
Pengertian Hiperpigmentasi
Kulit manusia memiliki zat melanin atau pigmen yang memberikan warna pada kulit. Zat itulah yang menjadikan kulit bisa berwarna beragam. Pada kondisi normal, pigmen biasanya merata di seluruh kulit sehingga warna kulit bisa sama. Ketika jumlah pigmen berlebihan dan menggumpal, maka timbul bercak atau bintik.
Jadi hiperpigmentasi adalah kondisi ketika sel kulit memproduksi melanin terlalu banyak. Bintik tersebut bisa muncul di mana saja, bisa di satu titik saja atau di seluruh bagian tubuh. Masalah kulit ini memang tidak membahayakan. Namun bisa mengganggu penampilan, terutama yang muncul pada wajah.
Penyebab Hiperpigmentasi
Masalah hiperpigmentasi pada kulit umumnya menunjukkan kondisi yang serupa, yaitu munculnya bintik gelap. Namun hal-hal yang dapat memicunya tidak selalu sama. Berikut ini adalah beberapa faktor yang menyebabkan produksi melanin pada kulit berlebihan, sehingga memunculkan bintik gelap:
- Paparan sinar matahari
- Peradangan pada kulit
- Faktor genetik
- Proses penuaan
- Luka bakar
- Jerawat
- Perubahan hormon
- Konsumsi pil KB
- Konsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari
- Kekurangan vitamin tertentu, seperti vitamin B12
- Gangguan pada kelenjar adrenal
- Penyakit tiroid
Berdasarkan penyebabnya, hiperpigmentasi dibedakan menjadi beberapa jenis. Inilah jenis-jenis hiperpigmentasi yang paling umum terjadi:
- Melasma, terjadi karena paparan sinar matahari berlebihan atau perubahan hormon akibat kehamilan (ditambah : karena faktor genetik)
- Lentigo, terjadi karena paparan sinar matahari berlebihan atau karena penyakit bawaan, seperti sindrom Peutz-Jeghers
- Drug-induced hyperpigmentation, terjadi akibat efek samping obat-obatan atau bahan kimia tertentu
- Post-inflammatory hyperpigmentation, terjadi karena adanya cedera pada kulit, seperti luka bakar, reaksi alergi, atau peradangan (Peradangan diganti bekas jerawat)
Gejala Hiperpigmentasi
Gejala hiperpigmentasi yang paling umum berupa bercak berwarna lebih gelap dari warna kulit yang asli. Bercak tersebut bisa berukuran kecil hingga besar dan dapat meluas ke bagian kulit lainnya. Selain di wajah, bercak gelap bisa muncul di leher, badan, lutut, dan lengan. Karena berwarna gelap, bercak ini dapat membuat kulit wajah terlihat kusam.
Hiperpigmentasi juga bisa menunjukkan gejala setelah kulit mengalami kondisi tertentu. Misalnya, bintik hitam yang muncul setelah kulit terlalu lama terpapar sinar matahari secara langsung. Gejala hiperpigmentasi juga dapat dikenali ketika ada bercak gelap pada kulit setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Hiperpigmentasi umumnya tidak menimbulkan gejala lain, seperti rasa sakit atau gatal. Bahkan kemunculannya sering kali tidak disadari. Secara perlahan, bercak yang semula samar dan berukuran kecil bisa semakin jelas terlihat dan meluas. Meski tidak menimbulkan rasa sakit, namun bercak akan membuat penampilan jadi kurang menarik.
Berdasarkan area munculnya, hiperpigmentasi dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Hiperpigmentasi focal (focal hyperpigmentation), yaitu hiperpigmentasi yang terjadi hanya pada satu area kulit. Bercak yang muncul biasanya dipicu paparan sinar matahari yang berlebihan, cedera, atau kelainan bawaan.
- Hiperpigmentasi luas (diffuse hyperpigmentation), yaitu hiperpigmentasi yang terjadi pada beberapa area kulit. Jenis ini umumnya muncul karena efek samping penggunaan obat-obatan.
Diagnosis Hiperpigmentasi
Walaupun hiperpigmentasi tidak menimbulkan gejala berupa rasa sakit atau gatal, namun ada kondisi yang perlu diwaspadai. Masalah bercak gelap pada kulit ini perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius, ketika memperlihatkan gejala seperti kemerahan, rasa panas ketika disentuh, sakit atau gatal, kesemutan, atau muncul darah maupun nanah di area bercak.
Pada tahap diagnosis hiperpigmentasi, dokter biasanya akan melakukan tanya jawab mengenai kemunculkan noda gelap di kulit pasien. Pertanyaannya seputar kapan pertama kali bercak tersebut muncul, bagaimana kondisi kesehatan pasien, hingga obat-obatan apa yang sedang dikonsumsi.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada kulit pasien dengan cara melihat dan meraba langsung area gelap yang muncul. Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendukung upaya diagnosis, seperti:
- Wood’s lamp untuk mendeteksi bakteri atau jamur yang menyebabkan masalah pada kulit
- Tes darah untuk memeriksa kadar vitamin, zat besi, hormon, serta fungsi tiroid
- Biopsi kulit untuk mendeteksi adanya kelainan pada sel kulit
(Untuk flek ga pernah dilakukan pemeriksaan pendukung, kecuali ada indikasi penyakit jadi mending dihilangkan saja)
Pengobatan Hiperpigmentasi
Setelah dilakukan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan langkah pengobatan. Pengobatan yang dilakukan tergantung pada penyebab yang menjadi pemicunya. Meski metode pengobatan bisa berbeda, namun umumnya bisa diatasi dengan beberapa cara pengobatan berikut ini:
- Obat oles hydroquinone untuk mencerahkan kulit (tambah : harus dibawah pengawasan dokter)
- Obat oles retinoid untuk menyamarkan bercak gelap pada kulit
- Obat oles yang mengandung azelaic acid untuk mencegah terbentuknya noda hitam pada kulit
- Chemical peeling untuk mengangkat lapisan terluar kulit yang akan terganti dengan lapisan kulit yang baru
- Terapi laser untuk merangsang pembentukan sel kulit baru sehingga bercak gelap kulit dapat tersamarkan
Selain metode pengobatan, dokter biasanya akan menyarankan sejumlah langkah perawatan. Perawatan ini akan memaksimalkan hasil pengobatan dan sekaligus akan menjadi langkah pencegahan agar tidak timbul lagi masalah serupa dan mengurangi risiko penyebarannya. Inilah beberapa langkah perawatan pada hiperpigmentasi:
- Menggunakan Krim Pelembab
Krim pelembab yang bagus untuk hiperpigmentasi adalah yang mengandung tretinoin dan hydroquinone. Kombinasi keduanya efektif dalam mencerahkan kulit. Krim dengan kandungan retinol, hyaluronic acid, dan gliserin juga dapat menjadi pilihan, karena mampu meningkatkan regenerasi sel kulit.
- Memakai Produk Vitamin C dan Asam Kojic
Krim atau salep yang mengandung vitamin C dan asam kojic juga direkomendasikan untuk merawat kulit hiperpigmentasi. Kedua kandungan tersebut dapat mencerahkan dan dapat menghambat enzim tyrosinase yang berperan dalam pembentukan melanin, sehingga kulit menjadi lebih cerah.
Itulah informasi lengkap tentang hiperpigmentasi, penyebab, gejala, dan pengobatannya. Agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal dalam mengatasi hiperpigmentasi, lakukan perawatan di klinik laser Jakarta Coterie Clinic. Temukan informasi lengkap tentang pilihan treatment, price list, hingga membuat janji temu di https://coterieclinic.com/.